Skip to content


PERTUMBUHAN DAN SINTASAN BENIH IKAN BAWAL AIR TAWAR (Colossoma macropomum) PADA TINGKAT PEMBERIAN PAKAN (FEEDING RATE) YANG BERBEDA

ABSTRAK

PERTUMBUHAN DAN SINTASAN
BENIH IKAN BAWAL AIR TAWAR (Colossoma macropomum)
PADA TINGKAT PEMBERIAN PAKAN (FEEDING RATE)
YANG BERBEDA

Oleh
Sri Purwatini1), Wardiyanto2), Munti Sarida3)

Ikan bawal air tawar (Colossoma macropomum) merupakan salah satu ikan introduksi yang pertumbuhannya cepat dan relatif tahan terhadap penyakit serta kadar oksigen rendah. Pembesaran ikan bawal air tawar masih sangat terbatas. Permasalahan yang dihadapi adalah rendahnya ketersediaan benih. Hal tersebut diduga karena pemberian pakan (feeding rate) yang kurang tepat. Untuk mendapatkan benih yang baik perlu memperhatikan tingkat pemberian pakan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, karena jumlah pakan yang diberikan akan berpengaruh pada sistem budidaya.

Penelitian ini tersusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Tingkat pemberian pakan yang digunakan adalah 4, 6, 8, 10 dan 12% dari bobot biomasa per hari. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan analisis ragam dengan selang kepercayaan 95%, dan dilanjutkan uji lanjut beda nyata terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tingkat pemberian pakan yang berbeda, memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan sintasan benih ikan bawal air tawar (Colossoma macropomum).

Perlakuan tingkat pemberian pakan12% dari bobot biomasa per hari memberikan hasil paling baik terhadap pertumbuhan berat mutlak (7,16%), pertumbuhan berat rata-rata (5,08%), pertumbuhan panjang mutlak (4,88%), pertumbuhan panjang rata-rata (2,58%), laju pertumbuhan harian (5,21%), sintasan (91,67%) dan efisiensi pakan (58,82%).

Kata kunci: feeding rate, pertumbuhan, sintasan dan Ikan bawal air tawar (Colossoma macropomum)

Keterangan:
1) Mahasiswa jurusan Budidaya Perairan
2) Dosen Pembimbing I
3) Dosen Pembimbing II

ABSTRACT

COLOSSOMA’S (Colossoma macropomum)
GROWTH AND SURVIVAL RATE AT DIFFERENT FEEDING RATE

By
Sri Purwatini1), Wardiyanto2), Munti Sarida3)

Colossoma (colossoma macropomum) is one of introduction fish species with fast growing, more resist to many diseases relatively than other species, and more survive at low oxygen concentration.The problem in Colossoma is breeding seed supply. Caused by incorrect feeding rate. The feeding rate, in quality and quantity, is the most important thing to get better quality of seed. The feeding rate will give big contribution for fish culture system.

The main purpose of this research was to get the effective feeding rate for growth and survival rate of Colossoma. The research was conducted complete random method with three repetition. The treatments are 4%, 6%, 8%, 10% and 12% of bio-mass weight per day. The research data was analyzed using analysis of variance with 95% confidence level, then tested by least significant difference test.

The treatments result showed that feeding rate treatments gave significant different for Colossoma’s on growth and survival rate. The best treatments was 12% of bio-mass weight per day feeding rate, with absolute weight growth (7,16%), average weight growth (5,08%), absolute length growth (4,88%), average length growth (2,58%), daily growth rate (5,21 %), survival rate (91,67%) and feeding efficiency (58,82%).

Key words: feeding rate, growth, survival rate and Colossoma macropomum

Keterangan:
1) Mahasiswa jurusan Budidaya Perairan
2) Dosen Pembimbing I
3) Dosen Pembimbing II

Download Versi PDF icon 30x30 PERTUMBUHAN DAN SINTASAN BENIH IKAN BAWAL AIR TAWAR (Colossoma macropomum) PADA TINGKAT PEMBERIAN PAKAN (FEEDING RATE) YANG BERBEDA | word icon30x30 PERTUMBUHAN DAN SINTASAN BENIH IKAN BAWAL AIR TAWAR (Colossoma macropomum) PADA TINGKAT PEMBERIAN PAKAN (FEEDING RATE) YANG BERBEDA

Posted in Pertanian.


PERSEPSI MASYARAKAT PETANI TERHADAP PROGRAM DESA MANDIRI ENERGI BERBASIS JARAK PAGAR DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

PERSEPSI MASYARAKAT PETANI TERHADAP
PROGRAM DESA MANDIRI ENERGI BERBASIS JARAK PAGAR
DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Oleh

Afrizal1, Dame Trully Gultom2, Dewangga Nikmatullah2

ABSTRAK

Pengembangan tanaman jarak pagar sebagai sumber bahan bakar nabati merupakan salah satu upaya potensial guna mengantisipasi krisis energi saat ini maupun di masa mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
(1) Faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi petani terhadap Program Desa Mandiri Energi Berbasis Jarak Pagar dan (2) Persepsi petani terhadap Program Desa Mandiri Energi Berbasis Jarak Pagar.

Penelitian ini dilakukan di Desa Pardasuka Kecamatan Katibung dan Desa Talang Baru Kecamatan Talang Baru Kabupaten Lampung Selatan pada Oktober sampai dengan Desember 2008. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan Proportional Random Sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai dan untuk menguji hipotesis penelitian digunakan statistik nonparametrik Uji Korelasi Rank Spearman.

Hasil penelitian menyatakan persepsi petani terhadap Program Desa Mandiri Energi termasuk dalam klasifikasi benar. Faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi petani terhadap Program Desa Mandiri Energi adalah: Interaksi petani dengan pihak luar (X4), Motivasi (X5), Pengetahuan (X6), dan Kebutuhan (X7), sedangkan tingkat pendidikan (X1), umur (X2), dan lama usahatani (X3) tidak berhubungan dengan persepsi petani terhadap Program Desa Mandiri Energi.

1 Mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung
2 Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung

Download Versi PDF icon 30x30 PERSEPSI MASYARAKAT PETANI TERHADAP PROGRAM DESA MANDIRI ENERGI BERBASIS JARAK PAGAR DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN | word icon30x30 PERSEPSI MASYARAKAT PETANI TERHADAP PROGRAM DESA MANDIRI ENERGI BERBASIS JARAK PAGAR DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Posted in Pertanian.


PENGARUH PENAMBAHAN DAUN SINGKONG DAN HIDROLISAT ULU AYAM PADA RANSUM BERBASIS PUCUK TEBU TERAMONIASI TERHADAP KECERNAAN SERAT KASAR DAN PROTEIN KASAR RANSUM SAPI PO

PENGARUH PENAMBAHAN DAUN SINGKONG DAN HIDROLISAT ULU AYAM PADA RANSUM BERBASIS PUCUK TEBU TERAMONIASI TERHADAP KECERNAAN SERAT KASAR DAN PROTEIN KASAR RANSUM SAPI PO

Oleh

Agus Herryanto1, Farida Fathul2, Erwanto2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh amoniasi pada pucuk tebu, penambahan daun singkong, dan hidrolisat bulu ayam dalam ransum terhadap konsumsi ransum, kecernaan serat kasar dan kecernaan protein kasar ransum sapi PO, serta untuk mengetahui perlakuan yang terbaik pengaruhnya terhadap konsumsi ransum, kecernaan serat kasar, dan protein kasar ransum sapi PO.

Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober–Desember 2008, bertempat di kandang Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian menggunakan Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) 4 x 4 dengan 4 ekor sapi PO sebagai kolom dan periode sebagai baris. Adapun perlakuan yang diberikan yaitu : R0 (15% rumput lapang dan 70% konsentrat + 15% pucuk tebu tanpa amoniasi); R1 (15% rumput lapang dan 70% konsentrat + 15 % pucuk tebu teramoniasi); R2 (R1 + 5% daun singkong); R3 (R2 + 0,5% hidrolisat bulu ayam). Data yang diperoleh diuji homogenitas, aditifitas, dan normalitas, kemudian dianalisis dengan sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil pada taraf 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) ransum perlakuan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi bahan kering, kecernaan serat kasar, dan kecernaan protein kasar ransum sapi PO. Rata-rata konsumsi bahan kering ransum tertinggi dicapai pada perlakuan R2 yaitu sebesar 4.462,60 g/ekor/hari dan terendah pada ransum perlakuan R0 yaitu sebesar 3.196,47 g/ekor/hari. Rata-rata kecernaan serat kasar tertinggi dicapai pada perlakuan R2 sebesar 69,01% dan terendah pada perlakuan R0 sebesar 51,22%. Rata-rata kecernaan protein kasar tertinggi dicapai pada perlakuan R2 sebesar 67,23% dan terendah dicapai pada perlakuan R0 sebesar 51,56%; (2) R2 (15% rumput lapang dan 70% konsentrat + 15% pucuk tebu teramoniasi + 5% daun singkong) memberikan pengaruh terbaik terhadap konsumsi ransum, kecernaan serat kasar, dan protein kasar ransum sapi PO.

Download Versi PDF icon 30x30 PENGARUH PENAMBAHAN DAUN SINGKONG DAN HIDROLISAT ULU AYAM PADA RANSUM BERBASIS PUCUK TEBU TERAMONIASI TERHADAP KECERNAAN SERAT KASAR DAN PROTEIN KASAR RANSUM SAPI PO | word icon30x30 PENGARUH PENAMBAHAN DAUN SINGKONG DAN HIDROLISAT ULU AYAM PADA RANSUM BERBASIS PUCUK TEBU TERAMONIASI TERHADAP KECERNAAN SERAT KASAR DAN PROTEIN KASAR RANSUM SAPI PO

Posted in Pertanian.


PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG LIMBAH UDANG TEROLAH TERHADAP KONSUMSI ENERGI DAN RETENSI ENERGI PADA BROILER

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG LIMBAH UDANG TEROLAH TERHADAP KONSUMSI ENERGI DAN RETENSI ENERGI PADA BROILER

Oleh

Muhajir1, Syahrio Tantalo2, Nining Purwaningsih2

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui pengaruh pemberian tepung limbah udang terolah terhadap konsumsi energi dan retensi energi pada broiler, (2) mengetahui tepung limbah udang terolah yang terbaik terhadap konsumsi energi dan retensi energi pada broiler.

Penelitian ini menggunan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan empat ulangan dengan satuan percobaan 1 ekor ayam broiler. Perlakuan yang diberikan berupa: R0 (95% ransum basal + 5% tepung limbah udang tanpa pengolahan), R1 (95% ransum basal + 5% hidolisat limbah udang NaOH3%),
R2 (95% ransum basal + 5% hidrolisat HCL 6%), R3(95% ransum basal + 5% hidrolisat limbah H2O25%) dan R4 (95% ransum basal + 5% limbah udang terfermentasi dengan Aspergillus niger). Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalis ragam pada taraf nyata 5%, kemudian dilanjutkan dengan uji lanjut menggunakan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf nyata 5%.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian tepung limbah udang terolah ke dalam ramsum berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi energi dan retensi energi pada broiler dan pengolahan tepung limbah udang dengan cara hidrolisis menggunakan H2O2 5% menunjukkan hasil terbaik terhadap konsumsi dan retensi energi pada broiler.

1. Alumni Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lampung
2. Dosen Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lampung

Download Versi PDF icon 30x30 PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG LIMBAH UDANG TEROLAH TERHADAP KONSUMSI ENERGI DAN RETENSI ENERGI PADA BROILER | word icon30x30 PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG LIMBAH UDANG TEROLAH TERHADAP KONSUMSI ENERGI DAN RETENSI ENERGI PADA BROILER

Posted in Pertanian.


PENGARUH MASSA BRIKET DAN VOLUME RUANG TERHADAP LAMA WAKTU PEMATIAN BARA BRIKET

PENGARUH MASSA BRIKET DAN VOLUME RUANG TERHADAP LAMA WAKTU PEMATIAN BARA BRIKET

Oleh
Mariyono1 Tamrin2 Budianto Lanya3

ABSTRAK

Briket batu bara menjadi salah satu andalan dalam diversifikasi energi, hal ini tidak hanya karena sumber batu bara yang terdapat di Indonesia masih cukup besar yaitu sekitar 19,3 miliar ton cadangan tetapi juga karena menghasilkan pemanasan yang tinggi dan kontinyu untuk pembakaran yang cukup lama. Selain itu, briket juga tidak beresiko untuk meledak/terbakar dan tidak mengeluarkan suara bising. Di dalam industi menggunakan bahan bakar secara terus menerus dan kontinyu (relatif lama) sedangkan penggunaan bahan bakar dalam rumah tangga relatif sebentar (tidak terlalu lama). Penggunaan dalam rumah tangga misalnya memasak air hanya sekitar15-30 menit. Dengan demikian perlu dibuat ruang pematian yang efektif untuk mengatasi masalah tersebut.

Namun terdapat suatu permasalahan pada briket batu bara tersebut, dimana diperlukan cara pematian yang efektif karena briket batu bara tidak mudah mati. Selama ini briket menyala sampai mati dengan sendirinya, sehingga briket tidak dapat digunakan lagi. Dengan demikian diperlukan cara pematian yang efektif. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan hubungan lama pematian bara api briket yang dibakar terhadap massa briket dan volume ruang pematian.

Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam beberapa tahap yaitu tahap pembuatan ruang pematian, pengumpulan alat dan bahan, pembakaran briket batu bara, pengamatan proses pematian, tekanan, dan waktu pematian serta analisis data. Mekanisme pematian briket batu bara ini dilakukan dari tahap penyiapan ruang hingga pengukuran waktu pematian. Prinsip kerja proses pematian ialah karena oksigen di dalam ruang berkurang dan membentuk zat karbon dioksida sehinga menyebabkan briket mati.

Ruang pematian memiliki ukuran yang berbeda yaitu 1400 cm3, 1050 cm3 dan 700 cm3 dengan massa briket 180 g, 300 g, dan 420 g. Waktu pematian pada ruang 1400 cm3 yaitu 20 menit untuk massa 180 g, 18 menit untuk massa 300 g, dan 16 menit untuk massa 420g. Pada ruang 1050 cm3 waktu pematiannya yaitu 18 menit untuk massa 180 g, 16 menit untuk massa 300 g, 14 menit untuk massa 420 g. Pada ruang 700 cm3 waktu pematiannya yaitu 16 menit untuk massa 180 g, 14 menit untuk massa 300 g, 12 menit untuk massa 420 g. Saat volume ruang diperkecil 0,75 kali dari 1400 cm3 maka waktu pematiannya lebih cepat 2 menit, tekanan vakum maksimum bertambah 16,66 Pa atau 0,2 cm (tinggi minyak di bawah tekanan atmosfer), dan suhu dalam ruang pematian semakin kecil,
Saat volume ruang diperkecil 0,5 kali dari 1400 cm3, maka waktu pematiannya lebih cepat 4 menit, tekanan vakum maksimum bertambah 33,32 Pa atau 0,4 cm, dan suhu dalam ruang pematian paling kecil diantara yang lain.
Dari uji waktu pematian menunjukkan bahwa semakin sempit ruang pematian maka semakin cepat proses pematiannya. Hal ini menunjukkan bahwa dalam proses pematian yang efektif diperlukan ruang pematian yang sempit. Selain itu massa briket yang semakin besar mengakibatkan proses pematiannya juga semakin cepat.

Download Versi PDF icon 30x30 PENGARUH MASSA BRIKET DAN VOLUME RUANG TERHADAP LAMA WAKTU PEMATIAN BARA BRIKET | word icon30x30 PENGARUH MASSA BRIKET DAN VOLUME RUANG TERHADAP LAMA WAKTU PEMATIAN BARA BRIKET

Posted in Pertanian.


PENGARUH KADAR AIR TERHADAP KEBUTUHAN ENERGI PENGGILINGAN DAN TINGKAT KEHALUSAN TEPUNG TALAS

PENGARUH KADAR AIR TERHADAP KEBUTUHAN ENERGI PENGGILINGAN DAN TINGKAT KEHALUSAN TEPUNG TALAS

Oleh
Iin Khoiriah¹, Tamrin², Sandi Asmara²

Tanaman talas (Colocasia esculenta Schott) merupakan salah satu tanaman yang banyak tumbuh di daerah tropis. Untuk itu digalakkan usaha perbaikan gizi masyarakat dengan cara meningkatkan mutu gizi konsumsi pangan. Salah satu usaha untuk meningkatkan mutu gizi konsumsi pangan adalah dengan cara melakukan penganekaragaman pangan. Penganekaragaman pangan ini dapat mengurangi konsumsi beras sebagai bahan makanan utama sumber karbohidrat.
Kandungan kimia dalam talas dipengaruhi oleh varietas, iklim, kesuburan tanah, dan umur panen. Umbi talas segar sebagian besar terdiri dari air dan karbohidrat.
Talas mengandung banyak senyawa kimia yang dihasilkan dari metabolisme sekunder seperti alkaloid, glikosida, saponin, minyak essensial, resin, gula dan asam-asam organik. Kadar air dalam bahan biasanya dinyatakan dalam persen, kadang-kadang dipakai juga dalam bentuk desimal. Terdapat dua metode untuk menentukan kadar air bahan yaitu berdasarkan basis kering (dry basis) dan basis basah (wet basis).
Beberapa keuntungan dari pengeringan antara lain : (1) memperpanjang masa simpan; (2) nilai ekonomis lebih tinggi; (3) memudahkan dalam pengangkutan; (4) limbah dapat dikonversi menjadi bahan yang berguna. Proses penggilingan (penghancuran) adalah proses pengecilan suatu ukuran bahan secara mekanik tanpa merubah sifat kimia bahan tersebut.
Tepung talas tidak dipengaruhi oleh kadar air karena itu tingkat kehalusan pada tepung talas dipengaruhi oleh serat dan pati. Jika dibandingkan penepungan biji nangka, tingkat kehalusan tepung biji nangka sangat dipengaruhi oleh kadar air. Karena biji nangka struktur sertanya lebih halus, sehingga pengaruh serat terhadap kehalusan tepung tidak dipengaruhi oleh serat dan lebih dipengaruhi oleh kadar air. Dan demikian pada penepungan biji nangka dipengaruhi oleh kadar air, sehingga hasilnya lebih kasar. Hasil pengujian dengan menggunakan perbedaan kadar air secara umum menunjukkan bahwa persentase tingkat kehalusan tepung umbi talas pada kadar air 13% fraksi halus lebih kecil dibandingakan dengan kadar air 22% dan kadar air 25 %.
Hal ini disebabkan semakin tinggi kadar air tekstur talas bersifat lengket, sehingga menahan putaran roda alat penggiling. Semakin tinggi kadar air maka tekstur bersifat lengket sehingga energi yang dibutuhkan semakin besar.
Suatu fakta pada saat penggilingan lebih susah dilepaskan, karena sebagian bahan lengket (mengendap) pada mesin penggiling. Jika dibandingkan dengan tepung nangka, semakin rendah kadar air maka semakin kecil energi yang dibutuhkan.

1. Alumni Jurusan Teknik Pertanian Universitas Lampung
2. Dosen Jurusan Teknik Pertanian Universitas Lampung

Download Versi PDF icon 30x30 PENGARUH KADAR AIR TERHADAP KEBUTUHAN ENERGI PENGGILINGAN DAN TINGKAT KEHALUSAN TEPUNG TALAS | word icon30x30 PENGARUH KADAR AIR TERHADAP KEBUTUHAN ENERGI PENGGILINGAN DAN TINGKAT KEHALUSAN TEPUNG TALAS

Posted in Pertanian.


PENGARUH KONSENTRASI GARAM TERHADAP MUTU RUSIP YANG DIFERMENTASI SELAMA 14 HARI

PENGARUH KONSENTRASI GARAM TERHADAP MUTU RUSIP YANG DIFERMENTASI SELAMA 14 HARI

Aprilia Ananta Putri A1), Dyah Koesoemawardani2) dan Neti Yuliana2)

Abstrak

Rusip merupakan produk fermentasi ikan yang menggunakan ikan teri. Terdapat beberapa keuntungan mengkonsumsi produk fermentasi khususnya rusip antara lain beraroma khas, produk mudah dicerna, dan terdapat senyawa hasil metabolisme dari bakteri asam laktat yang bermanfaat seperti asam laktat, H2O2 dan bakteriosin yang bersifat antimikroba bagi bakteri patogen. Salah satu sifat dari produk olahan ikan tradisional yang beredar di pasaran adalah tingkatan mutunya sangat beragam dan pada umumnya relatif rendah. Proses pembuatan rusip secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat belum memiliki standar tertentu, misalnya jumlah penambahan garam, gula aren atau beras sangrai, tempat yang digunakan dan kondisi penyimpanan didasarkan pada kebiasaan masing-masing. Sebagaimana produk fermentasi lainnya, hal ini dapat menyebabkan mutu yang tidak stabil, tidak seragam, bahkan terkadang mutunya sangat rendah dan dapat membahayakan konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan mutu rusip pada konsentrasi garam yang berbeda sehingga menghasilkan rusip yang aman, disukai konsumen dan dapat memperbaiki kualitas rusip terutama sensorinya.

Percobaan dalam penelitian ini disusun dalam Rancangan Kelompok Teracak Lengkap (RKTL) 3 ulangan. Faktor tunggal perlakuan terdiri dari 5 taraf konsentrasi garam 10 %, 15 %, 20 %, 25 % dan 30 % per berat bahan (b/b). Data diolah dengan analisis sidik ragam untuk mendapatkan penduga ragam galat serta signifikansi untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar perlakukan. Kesamaan ragam diuji dengan uji Bartlet dan kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Data dianalisis lebih lanjut dengan uji BNJ dengan taraf 1% dan 5%.

Pembuatan rusip spontan dengan konsentrasi garam yang berbeda menghasilkan hasil akhir produk yang beragam. Konsentrasi garam yang lebih tinggi menghasilkan mutu rusip dari segi kimia, mikrobiologi dan organoleptik yang lebih baik dibandingkan dengan penambahan garam dengan konsentrasi lebih rendah. Kadar air rusip pada penelitian ini berkisar antara 51,64 – 67,76 %, pH 5,39 – 5,99, total mikroba 7,48-14,09 log cfu/g, total bakteri asam laktat 8,25-14,15 log cfu/g, total kapang 5,66-9,95 log cfu/g, gula reduksi 3,48-7,11 %, nilai TVN 12,91 – 110,42 mgN/100g dan organoleptik yang disukai panelis pada rusip dengan konsentrasi garam 25 dan 30 %. Konsentrasi garam terbaik pada pembuatan rusip yaitu dengan penambahan garam dengan kisaran 25 – 30 %.

Kata kunci: rusip, fermentasi ikan, konsentrasi garam
______
1) Alumni Jurusan Teknologi Hasil Pertanian FP Unila.
2) Dosen Jurusan Teknologi Hasil Pertanian FP Unila.

Download Versi PDF icon 30x30 PENGARUH KONSENTRASI GARAM TERHADAP MUTU RUSIP YANG DIFERMENTASI SELAMA 14 HARI | word icon30x30 PENGARUH KONSENTRASI GARAM TERHADAP MUTU RUSIP YANG DIFERMENTASI SELAMA 14 HARI

Posted in Pertanian.


PENGARUH JENIS BAHAN LITTER TERHADAP RESPONS FISIOLOGIS BROILER UMUR 1–14 HARI DI KANDANG PANGGUNG

PENGARUH JENIS BAHAN LITTER TERHADAP RESPONS FISIOLOGIS BROILER UMUR 1–14 HARI DI KANDANG PANGGUNG

Oleh :

Rani Istriani 1, Ir. Khaira Nova, M.P 2, drh. Purnama Edy Santosa 2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk :( 1) Mengetahui pengaruh sekam padi, jerami padi, dan serutan kayu terhadap respons fisiologis broiler umur 1–14 hari di kandang panggung; (2) Mengetahui bahan litter yang terbaik terhadap respons fisiologis broiler umur 1–14 hari di kandang panggung.

Penelitian ini merupakan studi ekperimental di peternakan broiler milik Rama Jaya Farm. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan dan 6 kelompok (ulangan). Perlakuan terdiri atas jenis bahan litter (sekam padi, jerami padi dan serutan kayu). Kandang sebagai kelompok terdiri dari 6 kelompok (kelompok A1, A2, A3, A4, A5, dan A6). Jumlah broiler yang digunakan sebanyak 1.500 ekor, dengan jumlah petak sebanyak 18 petak, sehingga setiap petak berisi 83 ekor (kepadatan 10 ekor per meter persegi). Jumlah pengambilan sampel sebanyak 2% secara acak pada respon fisiologis yakni 2 ekor per petak. Data yang diperoleh dianalisis ragam secara statistik pada taraf nyata 5% dan atau 1% kemudian di uji lanjut dengan menggunakan uji lanjut Duncan pada taraf 5% dan atau 1%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) terdapat perbedaan nyata (P<0,05) pada frekuensi pernafasan dan suhu shank, tetapi tidak terdapat perbedaan yang nyata (P>0,05) pada suhu abdominal, sel darah merah (SDM) dan sel darah putih (SDP);
(2) broiler yang dipelihara pada kandang panggung dengan alas bahan litter sekam padi (SP) lebih baik dibandingkan dengan broiler yang dipelihara pada kandang panggung dengan alas bahan litter jerami padi (JP) dan serutan kayu (SK). Hal ini dapat dilihat dari, frekuensi pernafasan, suhu shank, suhu abdominal, sel darah merah, dan sel darah putih pada tubuh broiler yang dipelihara pada kandang panggung dengan alas bahan litter sekam padi (SP) lebih baik dibandingkan dengan broiler yang dipelihara pada kandang panggung dengan alas bahan litter jerami padi (JP) atau pun serutan kayu (SK).

1. Alumni Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lampung
2. Dosen Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lampung

Download Versi PDF icon 30x30 PENGARUH JENIS BAHAN LITTER TERHADAP RESPONS FISIOLOGIS BROILER UMUR 1  14 HARI DI KANDANG PANGGUNG | word icon30x30 PENGARUH JENIS BAHAN LITTER TERHADAP RESPONS FISIOLOGIS BROILER UMUR 1  14 HARI DI KANDANG PANGGUNG

Posted in Pertanian.


PENGARUH FERMENTASI SPONTAN TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA PATI JAGUNG

ABSTRAK

PENGARUH FERMENTASI SPONTAN
TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA PATI JAGUNG

Oleh

Iwan Setiawan

Fermentasi spontan adalah salah satu cara untuk memodifikasi pati. Modifikasi pati dilakukan untuk memperbaiki sifat-sifat dasar pati alami yang mempunyai beberapa kelemahan sehingga dapat memperluas penggunaanya dalam proses pengolahan pangan serta menghasilkan karakteristik produk pangan yang diinginkan. Pati modifikasi adalah pati yang mengalami perlakuan fisik atau kimia secara terkendali sehingga mengubah satu atau lebih dari sifat asalnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh lama fermentasi spontan terhadap sifat fisikokimia pati jagung terekstrak..

Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak kelompok lengkap dengan perlakukan tunggal dan tiga kali ulangan. Perlakukan berupa lama Fermentasi selama 0, 5, 10, 15 dan 20 hari. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam, dan dilanjutkan dan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 1 % dan 5 %.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi spontan berpengaruh nyata terhadap sifat fisikokimia pati jagung meliputi kadar amilosa, kadar pati, persentase kelarutan, swelling power, karakteristik pasta dan kejernihan pasta. Fermentasi spontan dapat meningkatkan nilai rendemen pati. Pada lama fermentasi 20 hari didapat jumlah rendemen pati tertinggi sebesar 59,5%. Pada pati tersebut didapat jumlah kadar pati dan kadar amilosa tertinggi, kadar pati (62,25%) dan kadar amilosa (26,92%). Pada pemanasan suhu 900C nilai persentase kelarutan pati jagung fermentasi spontan menjadi (12,67%) dengan tingkat swelling power (12,4 %). Pada tingkat kejernihan pasta pati jagung fermentasi spontan, lama fermentasi 20 hari nilai %T menurun sebesar (5,57%). Suhu gelatinisasi meningkat sampai dengan kisaran 730C dengan viskositas maksimum (437 BU), tingkat ketidakstabilan pasta sebesar 160BU dan viskositas balik yang kembali turun sebesar (32BU).

Kata kunci : Pati Jagung, Sifat Fisikokimia, Fermentasi Spontan.

Download Versi PDF icon 30x30 PENGARUH FERMENTASI SPONTAN TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA PATI JAGUNG | word icon30x30 PENGARUH FERMENTASI SPONTAN TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA PATI JAGUNG

Posted in Pertanian.


PENGARUH EKSTRAK VERMIKOMPOS DENGAN DUA PENGEKSTRAK YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SERAPAN HARA TANAMAN CAISIM (Brassica camprestris L-spp.)

PENGARUH EKSTRAK VERMIKOMPOS DENGAN DUA PENGEKSTRAK YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SERAPAN HARA TANAMAN CAISIM (Brassica camprestris L-spp.)

Oleh

Maria Transiska Mahvie Syahroh Sri Yusnaini Ainin Niswati2

ABSTRAK

Vermikompos merupakan kompos yang diperoleh dari hasil perombakan bahan-bahan organic yang dilakukan oleh cacing tanah, mengandung unsur hara lengkap baik makro maupun mikro yang sangat berguna bagi tanaman. Pendayagunaan dalam bentuk bulky sudah lama dikenal, tetapi sering kurang praktis. Salah satu alternative yang dapat digunakan yaitu dengan melakukan pengekstrakan. Untuk melarutkan hara yang ada dalam pupuk tersebut diperlukan pelarut yang tepat, agar hara yang terkandung dapat tersedia bagi tanaman. Pelarut yang digunakan adalah air destilata (H2O) dan aminium asetat (NH4OAc). Tujuan dari penelitian ini adalah: untuk mempelajari dan mencari jenis pengekstrak serta konsentrasi terbaik ekstrak vermikompos terhadap pertumbuhan dan serapan hara tanaman caisim (Brassica camprestris L-spp.). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAK), yang disusun secara faktorial (2×6) dengan 3 kelompok. Faktor pertama adalah jenis pengekstrak (J) yang terdiri dari H2O (A) dan NH4OAc (B). Faktor kedua adalah konsentrasi ekstrak vermikompos (K) yang terdiri dari konsentrasi 0% (K0), 20% (K1), 40% (K2), 60% (K3), 80% (K4) dan 100% (K5). Metode pot percobaan menggunakan sistem tanam hidroponik. Pengamatan yang dilakukan meliputi tinggti tanaman, jumlah daun, bobot brangkasan kering dan serapan hara N-total, P dan K serta karakteristik kimia bulky dan ekstrak vermikompos. Data yang diperoleh dilakukan Uji Homogenitas (Bartlett) dan Aditivitas (Tukey), selanjutnya data diolah dengan sidik ragam, dilanjutkan dengan Uji Ortogonal Kontras (untuk jenis pengekstrak) dan Uji Ortogonal Polinomial (untuk konsentrasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengekstrak NH4OAc lebih baik daripada pengekstrak H2O dan berpengaruh nyata (pada taraf 5 %) dalam meningkatkan tinggi tanaman caisim dengan tinggi maksimum (17,20 cm) pada konsentrasi 59,75 %. Terdapat korelasi antara bobot brangkasan kering tanaman caisim yang menggunakan pengekstrak NH4OAc dengan serapan hara P dan K. Tetapi tidak terdapat korelasi antara bobot brangkasan kering tanaman caisim yang menggunakan pengekstrak NH4OAc dengan serapan hara N, serta tidak terdapat korelasi antara tinggi tanaman dan jumlah daun pada pengekstrak H2O dan NH4OAc dengan serapan hara N, P dan K. Begitu pula dengan bobot brangkasan kering pada pengekstrak H2O dengan serapan hara N, P dan K.

Download Versi PDF icon 30x30 PENGARUH EKSTRAK VERMIKOMPOS DENGAN DUA PENGEKSTRAK YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SERAPAN HARA TANAMAN CAISIM (Brassica camprestris L spp.) | word icon30x30 PENGARUH EKSTRAK VERMIKOMPOS DENGAN DUA PENGEKSTRAK YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SERAPAN HARA TANAMAN CAISIM (Brassica camprestris L spp.)

Posted in Pertanian.




SEO Powered by Platinum SEO from Techblissonline